TUGAS MEMBUAT KARANGAN FIKSI
Penyihir dari Lembah Kabut
Di sebuah dunia yang tersembunyi di balik pegunungan Arlindor, terdapat sebuah lembah yang diselimuti kabut abadi. Konon, di sanalah tinggal seorang penyihir terakhir dari bangsa Eldaril, penjaga keseimbangan antara siang dan malam.
Namanya adalah Elira, seorang wanita muda dengan rambut seputih salju dan mata berwarna ungu yang berkilau saat malam tiba. Ia tinggal sendirian di Menara Cermin, bangunan tua yang berdiri di tengah danau magis yang airnya tak pernah membeku, bahkan saat musim dingin paling kejam.
Selama ratusan tahun, Elira menjaga Batu Cahaya, artefak kuno yang menyimpan sihir matahari. Tanpa batu itu, dunia akan tenggelam dalam kegelapan abadi. Namun, kekuatan batu itu menarik perhatian makhluk kegelapan dari Utara: Raja Bayangan, Zorthal.
Pada malam ke-13 bulan merah, kabut lembah bergolak. Suara gemuruh seperti raungan naga terdengar dari kejauhan. Elira membuka matanya dan merasakan retakan pertama pada Batu Cahaya. Ia tahu waktunya telah tiba.
Dengan tongkat berujung kristal, ia berjalan ke ruang ritual, menyalakan obor-obor biru yang hanya menyala dengan sihir murni. Elira memanggil empat roh penjaga: Angin, Api, Air, dan Tanah. Mereka muncul dalam pusaran cahaya, menunduk hormat pada sang penyihir.
“Zorthal telah bangkit,” kata Elira. “Aku butuh bantuan kalian.”
Para roh mengangguk dan bergabung dengannya dalam lingkaran mantra. Mereka menyatukan kekuatan, membentuk perisai cahaya di sekeliling lembah. Tapi itu hanya akan bertahan satu malam.
Elira tahu, satu-satunya cara menghentikan Zorthal adalah dengan menghancurkan Batu Cahaya—tindakan yang akan menghapus sihir dari dunia untuk selamanya.
Pagi menjelang, dan langit memerah seperti darah. Dari balik kabut, siluet Zorthal muncul, tinggi menjulang, tubuhnya terbuat dari bayangan yang terus bergerak. Dengan suara bergema, ia berkata, “Berikan aku batu itu, atau dunia ini akan musnah.”
Elira menatap Batu Cahaya di tangannya. Air mata mengalir, tapi tangannya tak gemetar. “Aku tak akan biarkan dunia ini jatuh dalam kegelapan, bahkan jika itu artinya sihir harus lenyap.”
Dengan satu mantra terakhir, ia menghantamkan batu itu ke tanah. Ledakan cahaya menyelimuti lembah, memekakkan telinga, dan membakar langit. Zorthal menjerit, tubuhnya hancur menjadi abu. Tapi kabut juga menghilang, dan Menara Cermin runtuh bersama Elira di dalamnya.
Saat matahari akhirnya terbit tanpa bantuan sihir, dunia sadar bahwa keajaiban telah pergi—tapi juga bahwa kegelapan telah dikalahkan.
Di tempat Elira mengorbankan dirinya, tumbuh sebuah pohon dengan daun berkilau seperti kristal. Orang-orang menyebutnya Pohon Cahaya, simbol harapan dan pengingat bahwa kebaikan kadang membutuhkan pengorbanan.
Comments
Post a Comment